Tampilkan postingan dengan label Keilmuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keilmuan. Tampilkan semua postingan

Pemerolehan Bahasa Anak (Fonem dan Kosakata)

0
COM
PEMEROLEHAN FONEM DAN KOSAKATA 
PADA ANAK USIA 5 TAHUN
LAPORAN PENELITIAN

Triyana Purnama Putri
Universitas Pendidikan Indonesia

ABSTRAK:Secara alamiah kemampuan komunikasi setiap anak berawal dari bentuk komunikasi yang sama, yaitu tangisan, isyarat, celotehan dan ungkapan emosional. Baru kemudian, secara berstruktur atau bertahap proses pemerolehan bahasa dimulai. Pemerolehan bahasa setiap anak memiliki tahapan yang sama, yaitu mengucapkan satu kata, dua kata, hingga mengucapkan satu kalimat penuh. Dalam perkembangan keterampilan berbahasa, anak mengalami yang namanya pemerolehan fonem dan pemerolehan kosakata. Seorang anak memiliki tujuh tahapan dalam pemerolehan bahasa menurut  Jean Piaget, yaitu tahap meraban pertama, tahap meraban kedua, tahap linguistik I, tahap linguistik II, tahap linguistik III, tahap linguistik IV, dan tahap linguistik V. Dalam penelitian ini, subjek penelitian telah berada pada tahap linguitik V dimana ia telah menguasai kompetensi penuh baik fonem maupun kosakata dibandingkan tahap di bawahnya. Penelitian dilakukan kepada subjek penelitian bernama Lulu Agustini, yaitu anak usia 5 tahun. Untuk meneliti terkait pemerolehan fonemdan kosakata, peneliti menggunakan metode melalui observasi serta merekam ujaran dari subjek penelitian. Dimana hasil observasi dan rekaman ujaran tersebut dijadikan sebagai bahan dari analisis penelitian ini. Temuan dari penelitian ini bahwa subjek peneliti yang berusia 5 tahun telah menguasai hampir semua jenis fonem dan telah mampu menggunakan kosakata berdasarkan kelas katanya.

Kata Kunci: Pemerolehan bahasa, Pemerolehan Fonem, Pemerolehan Kosakata.

*Untuk membaca lebih lengkap silakan download di bawah ini

Analisis Penggunaan dan Fungsi Bahasa Baku dan Non Baku

0
COM
A. Perbandingan Penggunaan Bahasa Indonesia Baku dan Non Baku 
Narasumber kami kali ini berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Beliau bernama Nuraini dengan umur 32 tahun. Ibu Nuraini ini dapat dikatakan penduduk asli Pulau Tidung karena sejak lahir hingga sekarang beliau menetap di Pulau Tidung. Bila dilihat dari silsilah keluarga beliau memiliki darah sunda dari ayahnya yang berasal dari Tangerang, Banten. Namun, demikian beliau tidak fasih dan bahkan tidak mengerti dengan bahasa sunda karena sejak kecil ia tidak diajarkan bahasa sunda oleh ayahnya.

Pendidikan terakhir beliau, yaitu Sekolah Menengah Pertama (SMP). Bila dilihat dari jenjang pendidikan terakhir beliau maka dapat digolongkan berpendidikan rendah. Selayaknya asumsi masyarakat bahwa orang dengan pendidikan rendah maka dalam penggunaan bahasa baku akan terlihat lebih kurang dibanding dengan orang yang berpendidikan tinggi. Dalam proses wawanacara kami dengan Ibu Nuraini terlihat penguasaan bahasa baku beliau kurang. Namun, walaupun begitu terlihat cukup berusaha untuk tetap menggunakan Bahasa Indonesia yang baku. Hal tersebut dapat dibuktikan dari potongan hasil wawancara kami dengan ibu Nuraini. 

Pewawancara : Nah, ibu kita kan nanti mewawancarai ibu, ibu mau menggunakan nama asli ibu atau mau disamarkan?
Narasumber : Nama asli ajadah, Nuraini
Pewawancara: Begini bu mungkin wawancara ini satu atau dua jam bu. Ya, sebenarnya kita ngobrol saja bu. Pertanyaannya nanti kalau ada yang tidak mengerti mah tidak apa-apa. Pokoknya tidak ada benar tidak ada salah bu. Apakah wawancara ini ibu setuju untuk direkam?
Narasumber : Iya, setuju ajadah (tertawa)
Pewawancara : Pakai nama asli bu yah?
Narasumber : Iya 
Pewawancara : Mungkin langsung saja ya bu. Mengganggu waktunya tidak bu?
Narasumber : Ya, tidak apa-apa dah
Pewawancara : Sambil berjalan saja ya bu yah
Narasumber : Iya

*Untuk membaca lebih lengkap silakan download di bawah ini

Aplikasi dari Prinsip Kerja Sama (Grice) pada Tuturan

0
COM
APLIKASI DARI PRINSIP KERJA SAMA (GRICE)
PADA TUTURAN MASYARAKAT PULAU TIDUNG
BERPENDIDIKAN RENDAH

Triyana Purnama Putri 
Universitas Pendidikan Indonesia

ABSTRAK: Prinsip kerja sama merupakan prinsip yang bertujuan agar suatu percakapan menjadi kooperatif. Kegiatan ini sendiri dilakukan untuk mengetahui sejauh mana prinsip kerja sama tersebut bekerja pada tuturan masyarakat Pulau Tidung. Pekerjaan masyarakat Tidung yang mayoritas nelayan membuat sebagian besar pekerja tersebut mempunyai latar belakang pendidikan yang rendah. Selain itu, di Pulau Tidung sendiri secara resmi tidak ada suatu bahasa yang berperan sebagai bahasa pokok atau bahasa lokal dari Pulau Tidung. hal ini disebabkan karena Pulau Tidung mempunyai latar belakang daerah masyarakat yang berbeda-beda. Raja dari Pulau Tidung sendiri diklaim berasal dari Pulau Kalimantan. Tetapi dalam hal dialek, mayoritas dari masyarakat Pulau Tidung berdialek melayu. Untuk meneliti prinsip kerja sama salah satu metode yang mudah melalui proses wawancara. Dimana hasil rekaman wawancara tersebut dijadikan sebagai bahan dari analisis penelitian ini. Analisis ini diarahkan untuk mengidentifikasi kerangka deskriptif dari tuturan narasumbernya. Kerangka teori yang digunakan adalah Prinsip Kerja Sama Grice (Grice’s Cooperative Principle). Temuan dari penelitian ini adalah meskipun dalam bentuk yang sederhana, tuturan masyarakat Pulau Tidung tetap mengandung keempat prinsip kerja sama milik Grice, yakni maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi, dan maksim cara. Walaupun keempat prinsip tersebut terdapat dalam tuturan masyarakat Pulau Tidung tetap aja ada pelanggaran-pelanggaran maksim yang tercipta. Hal tersebut disebabka oleh minimnya pengetahuan (background knowledge) yang sama antara pewawancara dengan narasumber.

Kata Kunci:Prinsip kerja sama, Bahasa, Pulau Tidung, Pendidikan rendah.

*Untuk membaca lebih lengkap silakan download di bawah ini

Kajian Naskah Drama "Anak Rantau" Karya Dian Tri Lestari

0
COM
ANALISIS SOSIOLOGI SASTRA DALAM NASKAH DRAMA “ANAK RANTAU” 
KARYA DIAN TRI LESTARI
Oleh
Triyana Purnama Putri 

ABSTRAKSI: Lahirnya karya sastra umumnya dari kondisi sosial suatu masyarakat.Salah satu karya sastra yang dekat dengan masyarakat adalah drama.Drama merupakan rekaan kisah hidupan yang direalisasikan di atas panggung.Dalam drama penonton dapat menemukan peristiwa-peristiwa atau konflik-konflik sosial yang terjadi di masyarakat.Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan untuk mengkaji drama atau naskah drama adalah pendekatan sosiologi sastra.Melalui pendekatan ini pembaca diharapkan dapat dapat memahami bahwa setiap kehidupan sosial yang terjadi baik dalam cerita rekaan maupun kenyataan tidaklah berbeda jauh.

Kata kunci: Karya sastra, drama, pendekatan sosiologi sastra.

PENDAHULUAN

Karya sastra dapat dikatakan sebagai permodelan kisah hidup umat manusia yang tertuang dalam bentuk lisan maupun tulisan.Dalam sifat alamiahnya sastra bagian dari seni memiliki nilai artistik dan keindahan dalam isinya serta bersifat imajinatif.Sastra sangat erat kaitannya dengan kehidupan sosial.Sastra dapat berperan sebagai pencerita dalam kehidupan umat manusia yang berkembang dari waktu ke waktu.Seseorang dapat mengungkapkan permasalahan sosial atau pengalaman-pengalaman yang dialaminya maupun yang terjadi di lingkungannya, dan kemudian dituangkan dalam sebuah karya sastra.

Naskah drama karya Dian Tri Lestari yang berjudul Anak Rantau menyuguhkan permasalahan sosial yang umumnya terjadi pada masyarakat yang masih memegang teguh pada adat istiadat.Anak Rantau adalah kisah seorang pemuda urban yang terbawa arus pergaulan dunia barat, berikut perubahan pola pikir dalam dirinya.Sampai saat ini persoalan macam itu masih terjadi di beberapa daerah di Indonesia.Seorang anak yang tidak dapat memposisikan dirinya dengan baik pada lingkungan baru dan akhirnya terbawa arus.Persoalan seperti ini menarik untuk dikaji lebih dalam, tentunya dengan sebuah pendekatan.Pendekatan yang dirasa pantas untuk mengkaji naskah drama ini adalah pendekatan sosiologi sastra.

*Untuk melihat lebih lengkapnya dapat di download di bawah ini