Aplikasi dari Prinsip Kerja Sama (Grice) pada Tuturan
APLIKASI DARI PRINSIP KERJA SAMA (GRICE)
PADA TUTURAN MASYARAKAT PULAU TIDUNG
BERPENDIDIKAN RENDAH
Triyana Purnama Putri
Universitas Pendidikan Indonesia
ABSTRAK: Prinsip kerja sama merupakan prinsip yang bertujuan agar suatu percakapan menjadi kooperatif. Kegiatan ini sendiri dilakukan untuk mengetahui sejauh mana prinsip kerja sama tersebut bekerja pada tuturan masyarakat Pulau Tidung. Pekerjaan masyarakat Tidung yang mayoritas nelayan membuat sebagian besar pekerja tersebut mempunyai latar belakang pendidikan yang rendah. Selain itu, di Pulau Tidung sendiri secara resmi tidak ada suatu bahasa yang berperan sebagai bahasa pokok atau bahasa lokal dari Pulau Tidung. hal ini disebabkan karena Pulau Tidung mempunyai latar belakang daerah masyarakat yang berbeda-beda. Raja dari Pulau Tidung sendiri diklaim berasal dari Pulau Kalimantan. Tetapi dalam hal dialek, mayoritas dari masyarakat Pulau Tidung berdialek melayu. Untuk meneliti prinsip kerja sama salah satu metode yang mudah melalui proses wawancara. Dimana hasil rekaman wawancara tersebut dijadikan sebagai bahan dari analisis penelitian ini. Analisis ini diarahkan untuk mengidentifikasi kerangka deskriptif dari tuturan narasumbernya. Kerangka teori yang digunakan adalah Prinsip Kerja Sama Grice (Grice’s Cooperative Principle). Temuan dari penelitian ini adalah meskipun dalam bentuk yang sederhana, tuturan masyarakat Pulau Tidung tetap mengandung keempat prinsip kerja sama milik Grice, yakni maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi, dan maksim cara. Walaupun keempat prinsip tersebut terdapat dalam tuturan masyarakat Pulau Tidung tetap aja ada pelanggaran-pelanggaran maksim yang tercipta. Hal tersebut disebabka oleh minimnya pengetahuan (background knowledge) yang sama antara pewawancara dengan narasumber.
Kata Kunci:Prinsip kerja sama, Bahasa, Pulau Tidung, Pendidikan rendah.
*Untuk membaca lebih lengkap silakan download di bawah ini
Kajian Naskah Drama "Anak Rantau" Karya Dian Tri Lestari
ANALISIS SOSIOLOGI SASTRA DALAM NASKAH DRAMA “ANAK RANTAU”
KARYA DIAN TRI LESTARI
KARYA DIAN TRI LESTARI
Oleh
Triyana Purnama Putri
ABSTRAKSI: Lahirnya karya sastra umumnya dari kondisi sosial suatu masyarakat.Salah satu karya sastra yang dekat dengan masyarakat adalah drama.Drama merupakan rekaan kisah hidupan yang direalisasikan di atas panggung.Dalam drama penonton dapat menemukan peristiwa-peristiwa atau konflik-konflik sosial yang terjadi di masyarakat.Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan untuk mengkaji drama atau naskah drama adalah pendekatan sosiologi sastra.Melalui pendekatan ini pembaca diharapkan dapat dapat memahami bahwa setiap kehidupan sosial yang terjadi baik dalam cerita rekaan maupun kenyataan tidaklah berbeda jauh.
Kata kunci: Karya sastra, drama, pendekatan sosiologi sastra.
PENDAHULUAN
Karya sastra dapat dikatakan sebagai permodelan kisah hidup umat manusia yang tertuang dalam bentuk lisan maupun tulisan.Dalam sifat alamiahnya sastra bagian dari seni memiliki nilai artistik dan keindahan dalam isinya serta bersifat imajinatif.Sastra sangat erat kaitannya dengan kehidupan sosial.Sastra dapat berperan sebagai pencerita dalam kehidupan umat manusia yang berkembang dari waktu ke waktu.Seseorang dapat mengungkapkan permasalahan sosial atau pengalaman-pengalaman yang dialaminya maupun yang terjadi di lingkungannya, dan kemudian dituangkan dalam sebuah karya sastra.
Naskah drama karya Dian Tri Lestari yang berjudul Anak Rantau menyuguhkan permasalahan sosial yang umumnya terjadi pada masyarakat yang masih memegang teguh pada adat istiadat.Anak Rantau adalah kisah seorang pemuda urban yang terbawa arus pergaulan dunia barat, berikut perubahan pola pikir dalam dirinya.Sampai saat ini persoalan macam itu masih terjadi di beberapa daerah di Indonesia.Seorang anak yang tidak dapat memposisikan dirinya dengan baik pada lingkungan baru dan akhirnya terbawa arus.Persoalan seperti ini menarik untuk dikaji lebih dalam, tentunya dengan sebuah pendekatan.Pendekatan yang dirasa pantas untuk mengkaji naskah drama ini adalah pendekatan sosiologi sastra.
*Untuk melihat lebih lengkapnya dapat di download di bawah ini
Selamat Menua, Mbak Put!
Dinar adalah salah satu sahabat saya sejak SMP. Seperti lika liku persabatan pada umumnya, tentu saja kami pernah mengalami yang namanya bertengkar. Tapi, saat ini kami sudah remaja tingkat akhir malah seharusnya sudah pada tahap perempuan dewasa. Jadi, sudah bukan jamannya ya, bertengkar bak anak SMA gitu. Hahaha. Semua harus dilihat dari cara pandang 'manusia adalah makhluk sosial'.
Pernah suatu ketika kami berdua bertengkar hebat, hingga tidak saling menyapa selama kurang lebih satu tahun. Sebenarnya kalau ditanya dari hati, ya pastinya nggak mau bertengkar seperti itu. Tetapi , berhubung kepalang emosi dan saling mementingkan ego, ya seperti itulah jadinya. Hingga pada awal tahun ini saya memberanikan diri untuk menyapanya dan meminta maaf. Awalnya saya ragu karena takut akhirnya malah menimbulkan sakit hati jika terjadi hal yang tidak diinginkan. Tetapi, setelah saya berbicara panjang lebar yang isinya ingin memperbaiki hubungan kami berdua, dengan sangat terkejut ternyata Dinar pun memiliki keresahan dan kerinduaan yang sama seperti saya. Dan alhamdulillah hingga sekarang hubungan saya dan Dinar menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Hal ini memberikan pelajaran bagi saya, bahwa cara kerja ikatan persahabatan sama seperti cara kerja ikatan persaudaraan. Ego akan mampu ditekan oleh rasa kasih sayang.
Hal ini memberikan pelajaran bagi saya, bahwa cara kerja ikatan persahabatan sama seperti cara kerja ikatan persaudaraan. Ego akan mampu ditekan oleh rasa kasih sayang.
Si Blogger Magang
Blog ini lahir tahun 2012. Blog ini berisikan, cerita, pengalaman, pengetahuan, dan perasaan dari saya. Blog ini telah mengalami beberapa kali pembaharuan, karena beberapa cerita yang lahir pada beberapa 'dekade' sebelumnya dirasa lebay, alay, hinyay, dan bikin jijay. Tetapi, dengan peremajaan tersebut, saya berharap isi blog saya sekarang ini dapat bermanfaat, mengispirasi, dan menghibur para blogger sejati, blogger magang, atau blogger yang nggak sengaja masuk karena keyword yang sedikit menyesatkan. Salam Triyana Purnama Putri yang sekarang masih 21 tahun...
Keponakanku dan Dunianya
Hari ini dan beberapa hari belakang, saya sedang dihadapkan dengan rutinitas baru, yaitu menjadi baby sitter freelance. Memang betul kata orang tua, cari kerja itu susah. Buktinya walaupun sudah mendapat gelar sarjana tetap saja masih susah cari kerja. Kenapa tidak meneruskan ke S2? Hmm, nanti dulu deh ya. Dari SD sampai kuliah S1 sudah dibiayai orang tua masa sekarang S2 masih tetap merengek meminta aliran dana pada orang tua.
Bayi-bayi yang saya asuh memang benar-benar bayi yang luar biasa, tidak bisa diatur dan tidak bisa diam di satu tempat. Saya menyebutnya bocah-bocah rese. Ibu tidak marah anaknya dipanggil seperti itu? Tidak juga sih, karena ibunya kakak saya. Hahaha. Menyenangkan, tidak habis pikir, dan kadang cukup menguras emosi saat sedang datang bulannya.
Bayi yang satu usia 20 bulan (Anjani) yang satu usia 7 bulan (Al). Al sebagai bayi 7 bulan yang baru bisa merangkak tidak terlalu merepotkan, kasih mainan untuk digigit atau dipindahkan ke karpet saat memenemukan hal bahaya. Sementara Anjani ini, makhluk kecil yang menguji kesabaran banget. "Anak kebanyakan vitamin" julukan saya untuk dia. Memang saat masa kehamilan ibunya sering sekali minum vitamin, makan-makanan gizi tinggi dan hal lainnya yang dilakukan ibu-ibu muda saat hamil anak pertama. Pernah suatu ketika, saat saya dan keluarga makan di sebuah rumah makan, saking aktifnya anak satu ini hampir semua makanan dia "eksperimenkan" mulai dari es teh manis yang dicampur sambal, minum es kelapa campur tahu goreng, dsb.
Hal yang sedang happening sekali saat ini untuk Anjani adalah belajar berbicara. Anjani sudah mulai mampu berbicara dengan orang dewasa melalui persatu kata yang ia ucapkan. Kata pertama yang mampu ia ucapkan adalah cicak dengan bunyi yang sangat jelas. Tetapi selayaknya, anak seusianya walaupun telah mampu berbicara dengan orang dewasa tentunya tidak setiap kata yang ia ucapkan dapat dimengerti. Contohnya, mengucapkan susu menjadi cucu, masuk menjadi macuk, melon menjadi meyon, air menjadi ai, seribu menjadi cebu, dsb. Selain pengucapan yang belum sempurna, keberagaman kosakata yang anak seusia Anjani tentunya masih terbatas. Suatu ketika, ia diajak ke toko perhiasan. Selayaknya anak seusianya yang sangat senang bila diajak keluar, ia sangat asyik berlari kesana kemari di toko tersebut. Saat ibunya sedang memilih, ia pun menghampiri salah satu etalase yang berisi kalung-kalung emas yang sangat cantik yang mungkin beratnya di atas 3 gram. Kemudian, dengan polosnya ia teriak sambil menunjuk ke sembarang deretan kalung-kalung tersebut "Injam, injam, injam, injaam!" Maksudnya pinjam, pinjam, pinjam. Hahaha, sampai pegawai toko tersebut pun tertawa. Beruntunglah pada ibunya, karena saat ini Anjani hanya mampu berkata pinjam. Mungkin bila umurnya bertambah nanti kata tersebut akan menjadi "Mamih beli, beli, beli".
Saya sangat menyayangkan para orang tua yang mengajarkan anaknya bebicara pada usia "pemerolehan bahasa" dengan seolah "memanja-manjakan" sebuah kata, seperti pengucapan yang seharusnya pulang menjadi uang, susu menjadi cucu, sayang menjadi cayang, dsb. Padahal, pengucapan kata yang benar dari orang tua dapat membantu seorang anak lebih cepat melafalkan dengan benar sebuah kata. Coba saja bayangkan, jika mereka semakin besar dan ia mengartikan kata uang sebagai bentuk seseorang yang telah/hendak kembali ke rumah, bukan benda berbentuk kertas/logam yang dapat mereka gunakan untuk jajan. Masalah kita sudah mengajarkan dengan benar tetapi mereka masih salah mengucapkannya, itu karena penggunaan alat ucap mereka masih belum sempurna. Hal tersebut, tidak menjadi masalah selama para orang tua tetap membenarkan saat sang anak salah mengucapkannya.
Hahaha blog ini jadi berasa sedang membahas masalah parenting. Itu hanya sebatas cerita dan opini saya tentang dunia anak dan kebahasaan. Semoga dapat menjadi manfaat dan hiburan bagi yang membacanya :)
Hal yang sedang happening sekali saat ini untuk Anjani adalah belajar berbicara. Anjani sudah mulai mampu berbicara dengan orang dewasa melalui persatu kata yang ia ucapkan. Kata pertama yang mampu ia ucapkan adalah cicak dengan bunyi yang sangat jelas. Tetapi selayaknya, anak seusianya walaupun telah mampu berbicara dengan orang dewasa tentunya tidak setiap kata yang ia ucapkan dapat dimengerti. Contohnya, mengucapkan susu menjadi cucu, masuk menjadi macuk, melon menjadi meyon, air menjadi ai, seribu menjadi cebu, dsb. Selain pengucapan yang belum sempurna, keberagaman kosakata yang anak seusia Anjani tentunya masih terbatas. Suatu ketika, ia diajak ke toko perhiasan. Selayaknya anak seusianya yang sangat senang bila diajak keluar, ia sangat asyik berlari kesana kemari di toko tersebut. Saat ibunya sedang memilih, ia pun menghampiri salah satu etalase yang berisi kalung-kalung emas yang sangat cantik yang mungkin beratnya di atas 3 gram. Kemudian, dengan polosnya ia teriak sambil menunjuk ke sembarang deretan kalung-kalung tersebut "Injam, injam, injam, injaam!" Maksudnya pinjam, pinjam, pinjam. Hahaha, sampai pegawai toko tersebut pun tertawa. Beruntunglah pada ibunya, karena saat ini Anjani hanya mampu berkata pinjam. Mungkin bila umurnya bertambah nanti kata tersebut akan menjadi "Mamih beli, beli, beli".
Saya sangat menyayangkan para orang tua yang mengajarkan anaknya bebicara pada usia "pemerolehan bahasa" dengan seolah "memanja-manjakan" sebuah kata, seperti pengucapan yang seharusnya pulang menjadi uang, susu menjadi cucu, sayang menjadi cayang, dsb. Padahal, pengucapan kata yang benar dari orang tua dapat membantu seorang anak lebih cepat melafalkan dengan benar sebuah kata. Coba saja bayangkan, jika mereka semakin besar dan ia mengartikan kata uang sebagai bentuk seseorang yang telah/hendak kembali ke rumah, bukan benda berbentuk kertas/logam yang dapat mereka gunakan untuk jajan. Masalah kita sudah mengajarkan dengan benar tetapi mereka masih salah mengucapkannya, itu karena penggunaan alat ucap mereka masih belum sempurna. Hal tersebut, tidak menjadi masalah selama para orang tua tetap membenarkan saat sang anak salah mengucapkannya.
Hahaha blog ini jadi berasa sedang membahas masalah parenting. Itu hanya sebatas cerita dan opini saya tentang dunia anak dan kebahasaan. Semoga dapat menjadi manfaat dan hiburan bagi yang membacanya :)
![]() |
| Hastanta Leroy Altair (Al) |
![]() |
| Myeshia Afsheen Anjani (Anjani) |
Hasil Tidak Akan Mengkhianati Proses
Seharusnya ini jadi blog dua bulan lalu. Tapi karena terkadang menulis itu membutuhkan mood maka baru terealisasi hari ini.
Tanggal 30 Juli 2015 menjadi bagian dari beberapa tanggal yang berarti bagi hidup saya. Untuk apa memspesialkan tanggal? Agar saat kita bercerita dengan anak cucu tidak terjadi kekeliruan dan juga agar anak cucu kita kelak dapat berimajinasi seperti apa sosok kita pada saat itu.
Oke, lanjut saja ya. Pagi hari tanggal 30 Juli 2015 saya bersiap dan berpakian rapi. Apa yang tidak biasa saya kenakan, seolah menjadi keharusan yang saya pakai pada hari itu. Ya, kaus kaki. Selain ketika memakai sepatu model sneakers, saya paling anti memakai kaus kaki. Tetapi, hari itu dengan sukarela tanpa paksaan, kaus kaki saya kenakan dan saya sandingkan dengan flatshoes. Setelah bersiap dan berkemas diri, sekuat tenaga saya mengatur napas dan detak jantung agar tetap dalam keadaan sesantai mungkin. Tetapi, biarpun berusaha sesantai mungkin tetap terasa ada angin di dalam perut atau sesuatu yang berharap ingin segera keluar. Dengan berusaha santai dan yakin akan kemampuan diri sendiri dalam hari saya menerikan "Bismillah, siap sidaaaaang!!!" (Hmm, agak dramatis tapi ya memang dalam situasi untuk mempertaruhkan masa depan standarnya mungkin seperti itu. Realisasinya bisa dilihat ketika seorang kehilangan kekasihnya).
Yap, hari itu hari saat saya dan puluhan mahasiswa lainnya di uji oleh tiga orang yang insya Allah jenius dan mendadak berubah menjadi kloningannya malaikat Izrail. Saat itu memang saya akui saya cukup percaya diri dengan produk yang saya godok kurang lebih 3 bulan. Faktor utamanya karena Allah membatu saya yang orangnya panikan dan panakut dengan memberikan dosen pembimbing yang jenius gila tapi nyereminnya juga gila.
Dalam kurun waktu 3 bulan tersebut, saya dihadapkan dengan konsep dan instrumen penelitian yang bolak-balik direvisi. Pada tahap itu problematik mahasiswa tingkat akhir benar-benar saya rasakan. Kuncen perpustakan, sahabatan dengan staff jurusan, lupa makan (tapi untungnya memang sedang bulan ramadhan), sampai tidak tidur 32 jam. Amazingggg!! Tapi saya menyakini dan percaya dengan quotes (yang entah dari siapa sumbernya) bahwa hasil tidak akan mengkhianati proses. Selain itu, sebagai penambah semangat dan penghibur diri, beberapa hari sebelum sidang sering berbicara pada diri sendiri yang isinya "Skripsi ini yang tau isi dan prosesnya kan cuma kamu. Penguji tahu apa." Hahaha.
Karena proses yang saya jalani dan yakin dengan apa saya tulis dalam 227 halaman tersebut, dengan berusaha santai tetapi tetap serius hampir semua pertanyaan yang diajukan kloningan malaikat-malaikat izrail dapat saya jawab. Setelah penguji terakhir mengatakan "Iya sudah cukup" dan saya dipersilkan keluar dari ruang sidang rasa ingin meluk siapa saja yang saya lihat saat itu. Bahagia, ingin teriak, mendadak kelaparan, dan perasaan yang tak tergambarkan lainnya. Tapi alhamdulillah saat itu teman-teman dekat saya sudah menanti di luar ruang jadi saat keluar ruangan, saya tidak memeluk siapapun yang lewat deh. Hahaha.
Hari itu setelah pengumuman kelulusan atau yudisium oleh Ketua Jurusan, saya rasa tidak ada yang tidak terharu. Karena, ya, namanya juga baru saja melewati saat-saat menegangkan yang membuat perut kembung, tangan dingin, dan jantuk berirama lebih cepat. Apalagi dengan kata-kata Bapak Kajur yang sukses buat mahasiswi-mahasiswinya berkaca-kaca, yaitu "Satelah ini, sampaikan salam kami kepada orang tua kalian. Setelah delapan semester, sekarang saat kami mengembalikan kalian kepada orang tua masing-masing" Mungkin bila tidak ada unsur di luar bahasa seperti situasi dan suanana kelimat-kalimat tersebut tidaklah istimewa. Tetapi, kalimat-kalimat tersebut begitu berarti dan menyentuh bagi kami yang baru saja mendapat tambahan beberapa huruf ajaib dibelakang nama lengkap.
Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah. Tentunya hanya itu yang dapat saya panjatkan kepada Allah Swt. Karena sedikitnya saya telah mampu memberikan kebahagiaan dan kebanggan untuk orang tua dan keluarga. Walaupun saya bukan penganut dogma bahwa kuliat lebih cepat selesai itu lebih baik tapi saya percaya bahwa kuliah lebih cepat selesai itu dapat membantu membuat keuangan orang tua membaik.
Inilah sisa-sisa kebahagian tersebut.....
Hari itu setelah pengumuman kelulusan atau yudisium oleh Ketua Jurusan, saya rasa tidak ada yang tidak terharu. Karena, ya, namanya juga baru saja melewati saat-saat menegangkan yang membuat perut kembung, tangan dingin, dan jantuk berirama lebih cepat. Apalagi dengan kata-kata Bapak Kajur yang sukses buat mahasiswi-mahasiswinya berkaca-kaca, yaitu "Satelah ini, sampaikan salam kami kepada orang tua kalian. Setelah delapan semester, sekarang saat kami mengembalikan kalian kepada orang tua masing-masing" Mungkin bila tidak ada unsur di luar bahasa seperti situasi dan suanana kelimat-kalimat tersebut tidaklah istimewa. Tetapi, kalimat-kalimat tersebut begitu berarti dan menyentuh bagi kami yang baru saja mendapat tambahan beberapa huruf ajaib dibelakang nama lengkap.
Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah. Tentunya hanya itu yang dapat saya panjatkan kepada Allah Swt. Karena sedikitnya saya telah mampu memberikan kebahagiaan dan kebanggan untuk orang tua dan keluarga. Walaupun saya bukan penganut dogma bahwa kuliat lebih cepat selesai itu lebih baik tapi saya percaya bahwa kuliah lebih cepat selesai itu dapat membantu membuat keuangan orang tua membaik.
Inilah sisa-sisa kebahagian tersebut.....
![]() |
| Foto saya di depan fakultas tercintaah |
![]() |
| Bersama sahabat-sahabat *walaupun tidak lengkap |
![]() |
| Bersama sahabat-sahabat *walaupun tidak lengkap |
#SKW48
Kurang lebih setahun yang lalu tepat di bulan ini, saya dipertemukan dengan 10 orang luar biasa dengan karakter masing-masing. Dari sebelas kepala dengan beragam cara pandang, diharuskan menjadi satu otak demi terciptanya nilai A dan pencitraan yang baik di depan ribuan pasang mata.
Duduk di ruang tengah, menyalakan musik, menyanyi bersama itu kebiasaan kami di posko KKN. Iya 10 orang tersebut teman-teman baru saya yang saya dapat di mata kuliah Kuliah Kerja Nyata. Lebih tepatnya mungkin keluarga baru bagi saya.
Awal masa-masa tersebut, mungkin sulit. Sulit beradaptasi dengan lingkungan baru dan sulit menyatukan masing-masing jalan pikiran dari orang-orang konyol ini. Tapi seiring berjalannya waktu, semakin banyak kegiatan yang kami lakukan bersama. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Mulai dari yang tidak biasa kami jalani menjadi hal yang sehari-hari kami jalani. Mulai dari yang asing menjadi tak tahu diri. Iya hal-hal tersebut membuat kami semua semakin akrab dan membuat kata jaim serta canggung seolah hilang dari muka bumi.
Kesepuluh orang tersebut mempunyai karakter masing-masing yang khas dan sulit dilupakan.
Pertama, dimulai dari ketua kelompok namanya Alija Izetbegovic. Biasa kami panggil Ija. Saat awal tahu bahwa ada anggota kelompok memiliki nama unik seperti itu, saya pikir ia bule agak blasteran negara mana gitu, Ternyata, bayangan tersebut hanya ilusi semata, mukenye pribumi pisan, sis. Hahaha. Ia menjabat ketua kelompok sekaligus koordinator kecamatan di daerah KKN kami. Tetapi saat di posko, semua ingarbingar jabatan tersebut seolah enyah dari jidatnya. Mungkin di posko kelompok lain ia disegani tapi di posko kelompok sendiri ia di bully. Hahaha. Wajahnya yang sangar tidak sejalan lurus dengan sikap dan sifatnya. Konyol, kocak, manja, kadang nyebelin, tapi ya sukseslah untuk jadi pemimpin.
Kedua ada wakil ketua, Ade Taofik. Biasa kami panggil Mang Opik. Kenapa bisa mempunyai panggilan seperti? Karena Ade ini kuncennya daerah kami. Beberapa anggota keluarganya ada di sana. Keluarnyalah yang menjadi salah satu sponsor jika kami rindu akan makanan mewah, seperti ayam goreng atau ikan goreng. Nah, Ade biasa di panggil Mang Opik oleh keluarganya. Walaupun masih muda ternyata ia keponakannya sudah banyak dan banyak yang lebih tua darinya. Selain itu, jika di posko Ade laki-laki paling rajin kalau masalah piket. Selalu stand by di kamar mandi buat cuci piring. Hahaha. Sifat lain dari Ade itu adalah jayus. Saya kurang paham, apa kami semua memiliki selera humor yang rendah atau beliau ini salah pilih tutorial cara melawak yang baik.
Ketiga ada ibu bendahara, Diana Djawdjatus Sholeha. Biasa kami panggil Ndid. Ibu bendahara ini memang sukses mengemban jobdesk nya. Ndid ini tipikal orang yang rajin, pintar atur pengeluaran, dan yang paling 'Ndid banget' adalah jarang ngomong tapi sekalinya ngomong nyes bikin orang ngakak. Dan satu lagi ciri khasnya Ndid, nggak mau dicium walaupun dengan sesama perempuan. Jadi kalau habis shalat berjamaah saya dan teman-teman perempuan yang lain suka menjahilinya dengan cium pipi beliau ini. Hahaha.
Keempat ada Ibunya anak-anak di posko, Risa Haelani. Kenapa dipanggil ibu karena sifat perempuan super cantik ini seperti ibu-ibu, yaitu selalu berusaha memenuhi setiap keinginan kami. Mulai dari request makan apa hari ini, memfasilitasi soal jajan, hingga menemani kami ke kamar mandi. Pertama bertemu beliau ini, karena cantik saya pikir ia sombong ternyata nyenengin banget, baik, pokoknya orang sunda banget. Hahaha. Memang benar sih quote don't judge a book by its cover itu.
Kelima ada ratu Sumedang, Wening Tyas. Biasa kami panggil Teteh. (Warning: Jangan coba-coba panggil beliau Wening!). Umurnya paling muda tapi dipanggil teteh, kenapa? Mungkin karena sikapnya mirip teteh-teteh (jawaban yang tidak menjawab). Teteh yang satu ini sifatnya bawel, galak, jutek. Ya, persis teteh-teteh kan? Hahaha. Tapi bawelnya dan galaknya karena perhatian ke anggota kelompok yang lain. Soal makan yang paling diperhatikan oleh beliau ini ;') Kadang beliau sendiri susah kalau diingatkan soal makan. Suka gagal paham. Beliau ini sering memarahi kami kalau telat makan. Kecuali juteknya, mungkin itu bawaan lahir. Hahaha.
Keenam ada Anggi Septiriani atau Ginot. Perempuan cantik dan paling rame. Kalau baru kenal pasti nggak nyangka kalau anak ini rajin shalat, pintar, dan peduli sama orang-orang yang dekat dengan dia. Dan satu yang saya paling suka dengan sikap Ginot adalah ia tipikal orang yang berbicara apa adanya. Kalau yang keluar dari mulutnya A, berarti yang ada dipikiran dan hatinya A. Keren. Dan satu lagi, anaknya modis abissss. Apa aja yang ia pakai selalu cocok. Dan satu lagi sifat yang paling saya suka dari Ginot, loyal sama orang-orangnya yang ia sayangi. Apalagi kalau si cantik ini sedang bawa banyak makanan. Hahaha.
Ketujuh ada Dinar Tiara Asih atau Inay. Cantik, polos, pintar, dan saredeuk. Suka nggak paham sama polosnya Inay itu. Kadang kalau lagi ngobrol 'alirannya' itu suka nggak sampai ke Inay, mesti pake jenset dulu. Hahaha. Ciri khas Inay itu, mirip radio berjalan. Apa aja lagunya beliau ini pasti tau liriknya atau paling nggak judulnya. Jadi kalau ngajak Inay ke BD Melody pasti peserta yang lain kalah. Dan Inay itu sering saredeuk. Kalau jalan sering nabrak apapun di depannya. Kalau habis nabrak pasti langsung bersuara "Aduh maapin Inay" (Dengan wajah penuh penyesalan). Dan yang paling saya suka dari Inay itu suara ketawanya, renyah banget. Emeeshh.
Kedelapan ada Desi Wulandari atau Ndes. Selama di posko, Ndes ini kaya ratunya tidur dan ratunya gelar kasur. Hahaha. Tapi jangan coba-coba setengah hari terus-terusan bersamanya. Pasti sedikitnya satu sifat atau kebiasaan orang lain bisa beliau idetifikasi. Orangnya sangat cerdas untuk mengidentifikasi sikap dan sifat orang. Bahkan, perasaan orang terhadap orang lain. Mungkin horor, tapi salah satu sifat Ndes ini membantu saya untuk mengetahui sesuatu hal. Ciri khasnya Ndes kalau di posko setiap ada lagunya Roar Katy Perry "Aduh bentar ya Mas Pian telepon" Hahaha.
Kesembilan ada Umar Wijaksono atau Aki. Kenapa beliau ini kami panggil Aki? Karena sifatnya memang mirip aki-aki. Suka marah-marah sambil jalan dan menggerutu. Saat di posko, kami tidak pernah memakai alarm untuk bangun pagi. Karena setiap pagi Aki selalu membangunkan kami dengan omelannya dan teriakannya. Hahaha, sangat membantu saya akui. Tetapi sebenarnya Aki ini orangnya kocak. Sebelas dua belas dengan Ade. Selain dalam hal melawak, Aki pun menjadi partner Ade dalam banyak hal. Misalnya, jemput Bu Kades, beli logistik ke kota (Sumedang), benerin air kalau tersumbat, dsb.
Kesepuluh ada Yudi Sudirwan atau Ayudi. Beliau ini orang yang paling sering (itikaf) di masjid dekat posko, tetap main dengan anak-anak sekitar posko saat anggota lain lelah. Dan beliau ini, satu-satunya anggota yang terlibat cinlok dengan Irema setempat. Hahaha.
Seperti itulah kesepuluh manusia langka yang sekarang menjadi bagian dari hidup saya. Salah satunya malahan akan menjadi bagian dari masa depan saya, Amiiin Ya Allah. Hahaha...
Keenam ada Anggi Septiriani atau Ginot. Perempuan cantik dan paling rame. Kalau baru kenal pasti nggak nyangka kalau anak ini rajin shalat, pintar, dan peduli sama orang-orang yang dekat dengan dia. Dan satu yang saya paling suka dengan sikap Ginot adalah ia tipikal orang yang berbicara apa adanya. Kalau yang keluar dari mulutnya A, berarti yang ada dipikiran dan hatinya A. Keren. Dan satu lagi, anaknya modis abissss. Apa aja yang ia pakai selalu cocok. Dan satu lagi sifat yang paling saya suka dari Ginot, loyal sama orang-orangnya yang ia sayangi. Apalagi kalau si cantik ini sedang bawa banyak makanan. Hahaha.
Ketujuh ada Dinar Tiara Asih atau Inay. Cantik, polos, pintar, dan saredeuk. Suka nggak paham sama polosnya Inay itu. Kadang kalau lagi ngobrol 'alirannya' itu suka nggak sampai ke Inay, mesti pake jenset dulu. Hahaha. Ciri khas Inay itu, mirip radio berjalan. Apa aja lagunya beliau ini pasti tau liriknya atau paling nggak judulnya. Jadi kalau ngajak Inay ke BD Melody pasti peserta yang lain kalah. Dan Inay itu sering saredeuk. Kalau jalan sering nabrak apapun di depannya. Kalau habis nabrak pasti langsung bersuara "Aduh maapin Inay" (Dengan wajah penuh penyesalan). Dan yang paling saya suka dari Inay itu suara ketawanya, renyah banget. Emeeshh.
Kedelapan ada Desi Wulandari atau Ndes. Selama di posko, Ndes ini kaya ratunya tidur dan ratunya gelar kasur. Hahaha. Tapi jangan coba-coba setengah hari terus-terusan bersamanya. Pasti sedikitnya satu sifat atau kebiasaan orang lain bisa beliau idetifikasi. Orangnya sangat cerdas untuk mengidentifikasi sikap dan sifat orang. Bahkan, perasaan orang terhadap orang lain. Mungkin horor, tapi salah satu sifat Ndes ini membantu saya untuk mengetahui sesuatu hal. Ciri khasnya Ndes kalau di posko setiap ada lagunya Roar Katy Perry "Aduh bentar ya Mas Pian telepon" Hahaha.
Kesembilan ada Umar Wijaksono atau Aki. Kenapa beliau ini kami panggil Aki? Karena sifatnya memang mirip aki-aki. Suka marah-marah sambil jalan dan menggerutu. Saat di posko, kami tidak pernah memakai alarm untuk bangun pagi. Karena setiap pagi Aki selalu membangunkan kami dengan omelannya dan teriakannya. Hahaha, sangat membantu saya akui. Tetapi sebenarnya Aki ini orangnya kocak. Sebelas dua belas dengan Ade. Selain dalam hal melawak, Aki pun menjadi partner Ade dalam banyak hal. Misalnya, jemput Bu Kades, beli logistik ke kota (Sumedang), benerin air kalau tersumbat, dsb.
Kesepuluh ada Yudi Sudirwan atau Ayudi. Beliau ini orang yang paling sering (itikaf) di masjid dekat posko, tetap main dengan anak-anak sekitar posko saat anggota lain lelah. Dan beliau ini, satu-satunya anggota yang terlibat cinlok dengan Irema setempat. Hahaha.
Seperti itulah kesepuluh manusia langka yang sekarang menjadi bagian dari hidup saya. Salah satunya malahan akan menjadi bagian dari masa depan saya, Amiiin Ya Allah. Hahaha...
Langganan:
Postingan (Atom)







